SPs UMSU || Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) mendorong sivitas akademika untuk tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga memastikan karya tersebut dikenal, ditemukan, dan memberikan kontribusi lebih luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Guest Lecturer Internasional bertajuk “Improving Academic Visibility and Integrity Through Scholarly Social Media” yang dilaksanakan di Auditorium Sekolah Pascasarjana UMSU, Jumat, 21 Agustus 2026.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Inovasi UMSU, Assoc. Prof. Dr. Rudianto. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Direktur Pascasarjana UMSU Dr. Adi Mansar Lubis, para ketua dan sekretaris program studi di lingkungan Sekolah Pascasarjana UMSU, dosen, serta mahasiswa. Kegiatan dimoderatori oleh Dr. Muhammad Irfan.
Adapun narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Dr. Mutiara Dwi Sari (UMAM Malaysia) dan Assoc. Prof. Dr. Nurul Huda (Universitas Brawijaya (UB) Malang).
Materi kegiatan memperkenalkan sekaligus menekankan pentingnya pemanfaatan berbagai platform akademik dalam membangun rekam jejak dan visibilitas ilmiah, antara lain Web of Science, Scopus, Google Scholar, SciProfiles, Lens.org, dan ORCID.
Visibilitas akademik dalam konteks ini bukan sekadar tentang seberapa sering seorang akademisi tampil di ruang publik. Lebih jauh, visibilitas berkaitan dengan sejauh mana karya ilmiah dapat ditemukan, dibaca, dikenal, dan diakui oleh komunitas akademik.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah konsep “Academic Visibility – Recognition”. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa fondasi visibilitas akademik adalah pengakuan dari sesama akademisi atau recognition by peers dalam komunitas keilmuan.
Pengakuan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi reputasi dan prestise akademik, kesempatan memperoleh penghargaan, dukungan dalam pengembangan karier akademik, hingga undangan untuk memberikan seminar atau menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmiah.
Dengan demikian, seorang akademisi dapat dikatakan memiliki visibilitas ketika komunitas akademik mengenal namanya, memahami karya-karyanya, serta memberikan penghargaan terhadap kontribusi ilmiah yang dihasilkannya.
Bagi mahasiswa pascasarjana, khususnya mahasiswa yang sedang menyelesaikan tesis dan disertasi, pemahaman tersebut menjadi penting. Karya ilmiah yang dihasilkan tidak semestinya berhenti sebagai dokumen untuk memenuhi persyaratan akademik.
Tesis dan disertasi harus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi artikel ilmiah, dipublikasikan, dikutip, dan menjadi bagian dari percakapan akademik yang lebih luas.
Di sinilah media sosial ilmiah memiliki posisi strategis. Media sosial tidak hanya dipahami sebagai ruang untuk membangun popularitas personal, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan gagasan, membagikan publikasi, membangun jejaring akademik, dan memperluas jangkauan karya ilmiah.
Namun, peningkatan visibilitas tersebut harus berjalan beriringan dengan integritas akademik. Popularitas tidak boleh mengalahkan kualitas. Upaya meningkatkan jumlah publikasi, sitasi, maupun pengikut juga tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan etika dan kejujuran ilmiah.
Seorang akademisi tidak cukup hanya dikenal, tetapi juga harus dikenal karena karya dan integritasnya. Sebab, visibilitas tanpa integritas dapat menghasilkan popularitas yang rapuh, sementara integritas tanpa kemampuan mengomunikasikan karya dapat membuat gagasan yang baik tidak menemukan pembacanya.
Kegiatan ini sekaligus mengingatkan bahwa dunia akademik kini tidak cukup hanya menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan juga harus dikomunikasikan dengan baik, dapat ditemukan oleh masyarakat akademik, dan memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu serta kehidupan masyarakat.
Bagi lingkungan Sekolah Pascasarjana UMSU, penguatan academic visibility menjadi bagian penting dalam membangun budaya akademik yang semakin terbuka, produktif, berjejaring, dan berintegritas.
Pada akhirnya, karya ilmiah yang baik bukan hanya karya yang selesai ditulis. Karya yang baik adalah karya yang berbicara, ditemukan, dibaca, didiskusikan, dikembangkan, dan memberi pengaruh bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta kemajuan masyarakat.(*)
